Jakarta, 19 Februari 2024 – Museum Batik Indonesia selenggarakan pameran temporer terbaru dengan tema “Hulu ke Hilir: Ekosistem Batik”, yang berlangsung dari bulan Desember hingga 29 Februari. Pameran ini menjadi ajang untuk memperkenalkan dan memperlihatkan kepada publik akan nilai-nilai dan kompleksitas ekosistem batik dengan menampilkan kain batik dari daerah Jawa, Sumatera hingga Maluku yang memukau dengan ciri khas nya masing-masing. Pada pameran ini juga pengunjung diajak untuk mengenal dunia penciptaan karya batik mulai dari proses pra produksi, produksi, distribusi, hingga upaya pelestariannya.
Penanggung Jawab Museum Batik Indonesia, Archangela Y. A. , mengatakan, “Pameran ini merupakan upaya kami untuk memperkenalkan lebih dalam nilai-nilai di balik penciptaan batik sebagai warisan budaya kepada masyarakat luas. Kami berharap melalui pameran ini, pengunjung dapat lebih menghargai nilai gagasan, kerja keras, kreativitas, dan upaya untuk mempertahankan keberlanjutan batik yang telah dilakukan oleh para pelaku budaya batik serta mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam melestarikannya.”
Susi Harahap, Dosen Seni Rupa dan Desain Lasalle College, sebagai salah satu pengunjung, memberikan komentar, “Penyelenggaran pameran ini sangat baik dan informatif, kebetulan kami dari Interior ya, jadi kami juga melihat tidak sekedar apa yang ditampilkan atau dipamerkan tetapi kami juga melihat display yang ditampilkan cukup representatif untuk ditangkap, bisa kita melihat informasi dengan lebih jelas, selain itu suasana yang ditampilkan proporsional sehingga siapapun yang melihat juga nyaman, membuat lebih paham bagaimana wastra Indonesia itu demikian punya nilai yang sangat tinggi.”
Pameran ini memberikan gambaran besar terkait proses produksi-konsumsi batik, termasuk mata rantai produksi-distribusi yang seringkali tidak diperlihatkan kepada publik. Dengan menampilkan keseluruhan proses batik, diharapkan masyarakat dapat lebih mengapresiasi esensi dan eksistensi batik serta turut berkontribusi dalam pelestarian ekosistem batik dengan cara mengenakan dan membantu mempromosikan batik.
Ahmad Mahendra selaku Plt. Museum dan Cagar Budaya (IHA) menambahkan, “Pameran ini juga merupakan langkah penting dalam memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan budaya. Kami berharap pameran ini dapat menginspirasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam melestarikan batik sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa.”
Batik telah tercatat dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak tahun 2009. Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek telah melakukan upaya tindak lanjut dengan mendirikan Museum Batik Indonesia yang tergabung dalam unit museum di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (IHA), yang dikelola sebagai Badan Layanan Umum. Pameran “Hulu ke Hilir: Ekosistem Batik” di Museum Batik Indonesia ini merupakan bentuk komitmen dalam rangka pendukung pelestarian batik di Indonesia.
Tentang Museum Batik Indonesia
***
Pada 2009, batik ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Selain karena keunikan teknik menghias kain dan keindahan motifnya, pengakuan batik sebagai warisan dunia adalah karena di setiap helai kain batik terkandung nilai budaya dan makna filosofis yang berkaitan erat dengan siklus kehidupan manusia Indonesia. Museum Batik Indonesia memegang peran penting dalam menopang ekosistem dunia batik yang lebih berkelanjutan.
Museum Batik Indonesia merupakan titik tolak dalam memperkuat upaya menghadirkan sarana penyebaran pengetahuan mengenai batik di Nusantara serta memberikan akses kepada masyarakat luas untuk mengenal batik dengan lebih mendalam. Dinaungi Indonesian Heritage Agency (IHA) sebuah badan layanan umum pengelola museum dan cagar budaya, Museum Batik Indonesia memiliki misi untuk terus meningkatkan profesionalisme pengelolaan museum, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta meningkatkan pelestarian batik melalui ruang kolaborasi bersama komunitas dan organisasi lainnya yang memiliki visi yang sama. Museum Batik Indonesia memiliki fungsi untuk mewadahi berbagai kalangan untuk mengenal, memahami, hingga belajar memproduksi. Batik merupakan salah satu alat diplomasi budaya yang saat ini telah diakui di dunia internasional. Sehingga salah satu tugas museum adalah untuk menjadikan pengetahuan tentang batik, serta pengembangan dan pemanfaatannya tetap berkelanjutan tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia.
Tentang Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya
Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesian Heritage Agency (IHA) merupakan badan layanan umum dibawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia yang saat ini bertanggung jawab atas pengelolaan 17 museum, 1 galeri serta 34 situs cagar budaya nasional di Indonesia. Terbentuk pada tahun 2022 dan diresmikan menjadi badan layanan umum per 1 September 2023, IHA mempunyai visi menjadi institusi yang bersifat kolaboratif dan mendorong daya cipta, perubahan sosial, serta pembangunan masyarakat yang berbudaya.
IHA mengedepankan peningkatan pelayanan yang berbasis perlindungan sebagai prioritas utama. Dengan merangkul kreativitas dan mengusung semangat kolaborasi yang inklusif. IHA secara kolektif berkontribusi untuk membuka wawasan apresiasi mendalam terhadap warisan budaya Indonesia yang beragam.